Scabies

INDONESIASATU.CO.ID:

Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei var. hominis dan produknya. Skabies memiliki sinonim yaitu the itch, gudik, budukan, atau gatal agogo. Sarcoptes scabiei var. hominis merupakan parasit obligat pada manusia dan hanya berkembang biak di dalam kulit manusia. Prevalensi skabies di seluruh dunia dilaporkan sekitar 300 juta kasus per tahun.Daerah endemik skabies adalah di daerah tropis dan subtropis seperti Afrika, Mesir, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Amerika Utara, Australia, Kepulauan Karibia, India, dan Asia Tenggara. Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak faktor yang menunjang penyakit ini, antara lain sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya promuskuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografik serta ekologik.

Sarcoptes Scabiei termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Secara morfologi merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan jantan lebih kecil, yakni 200-240 mikron x 150-200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat. Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, tungau jantan akan mati. Tapi kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari  dalam terowongan yang digali oleh tungau betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai 40-50 telur yang dihasilkan oleh setiap tungau betina selama rentang umur 4-6 minggu dan selama itu tungau betina tidak meninggalkan terowongan. Telur akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari. Setelah itu, telur akan berubah menjadi larva berkaki enam yang dapat tinggal di dalam terowongan atau keluar dari terowongan dengan memotong atapnya. Larva kemudian menggali terowongan pendek (moulting pockets) di mana larva berubah menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Setelah itu berkembang menjadi tungau jantan dan betina dewasa. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 – 12 hari

Gambaran morfologi Sarcoptes scabiei

Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Penularan penyakit skabies dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung, adapun cara penularannya adalah:

  1. Kontak langsung (kulit dengan kulit)

   Penularan skabies terutama melalui kontak langsung seperti berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual.

  1. Kontak tidak langsung (melalui benda)

   Penularan melalui kontak tidak langsung, misalnya melalui perlengkapan pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain.

Keluhan yang sering dirasakan penderita skabies gatal pada malam hari, penyakit ini menyerang secara kelompok, adanya terowongan pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm. Menemukan tungau merupakan hal yang paling diagnostik, dapat ditemukan satu atau lebih stadium tungau ini.

Pemeriksaan Penunjang

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menemukan tungau dan produknya yaitu :

  1. Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung yang terlihat papul atau vesikel dicongkel dengan jarum dan diletakkan di atas kaca obyek, lalu ditutup dengan kaca penutup dan dilihat dengan mikroskop cahaya.
  2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar.
  3. Dengan membuat biopsi irisan. Caranya, lesi dijepit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau dan diperiksa dengan mikroskop cahaya.
  4. Dengan biopsi eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan H.E.

 

Jenis obat topikal:

  1. Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Preparat ini tidak efektif terhadap stadium telur namun obat ini dapat membunuh tungau dan nimfa, maka penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kekurangannya yang lain ialah berbau dan mengotori pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun.
  2. Emulsi Benzil-benzoas (20-25%), efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering terjadi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
  3. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan), kadarnya 1% dalam krim atau losio. Termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi iritasi. Obat ini tidak dianjurkan pada anak kurang dari 6 tahun atau pada wanita hamil karena toksis terhadap sistem susunan saraf pusat. Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala diulangi seminggu kemudian.
  4. Krotamiton 10 % dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan, mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan antigatal, harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra.
  5. Permetrin dengan kadar 5% dalam krim, kurang toksik dibandingkan gameksan, efektivitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi setelah seminggu. Tidak dianjurkan pada bayi di bawah umur 2 bulan.

Pencegahan

Untuk melakukan pencegahan terhadap penularan skabies, orang-orang yang kontak langsung atau dekat dengan penderita harus diterapi dengan topikal skabisid. Terapi pencegahan ini harus diberikan untuk mencegah penyebaran skabies karena seseorang mungkin saja telah mengandung tungau scabies.

Selain itu untuk mencegah terjadinya reinfeksi melalui seprei, bantal, handuk dan pakaian yang digunakan dalam 5 hari terakhir, harus dicuci bersih dan dikeringkan dengan udara panas karena tungau skabies dapat hidup hingga 3 hari di luar kulit, karpet dan kain pelapis lainnya juga harus dibersihkan. Pakaian serta handuk yang digunakan penderita harus dicuci menggunakan air hangat agar dapat mematikan kuman scabies. Sebaiknya keluarga tidak saling menggunkan handuk satu sama yang lainnya. Harus memperhatikan cahaya sinar matahari benar-benar masuk ke dalam rumah karena kuman scabies tidak dapat hidup dengan suhu yang hangat.

Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat serta syarat pengobatan dan menghilangkan faktor predisposisi, penyakit ini dapat diberantas dan memberikan kemungkinan sehat yang cepat.

Demikianlah penulisan mengenai penyakit scabies ini, diharapkan bermanfaat untuk para pembaca. Penyakit scabies ini lebih baik dicegah karena penyakit ini dapat menularkan pada orang sekitarnya dan sangat menganggu kegiatan sehari-hari jika kuman scabies ini beraktivitas.

Penulis,

Darmawangsyah (Kepala Subbagian Tata Usaha dan Rumah Tangga Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Bengkulu)

Tulisan ini merupakan pandangan dan pendapat pribadi, tidak mewakili kebijakan institusi
 

  • Whatsapp

Berita Terkait

* Belum ada berita terpopuler.

Berita Terpopuler

* Belum ada berita terpopuler.

Index Berita