Tradisi Pawai Ogoh Ogoh Bagian Ritual Tradisi, Wadah Pencurahan Kreatifitas Seka Teruna Teruni

INDONESIASATU.CO.ID:

BADUNG- Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1941 , masyarakat Hindu menjalani sejumlah ritual khas yang pada hakikatnya merupakan upaya pensucian diri dan lingkungan sekitar. Pada 2-4 hari sebelum Nyepi, masyarakat menyucikan diri dan perangkat peribadahan di pura melalui Upacara Melasti. Sementara, satu hari sebelum Nyepi, dilakukan ritual Buta Yadnya (Bhuta Yajna).

Buta Yadnya merupakan rangkaian upacara untuk menghalau kehadiran buta kala yang merupakan manifestasi unsur-unsur negatif dalam kehidupan manusia. Dalam rangkaian Buta Yadnya, terdapat tradisi pawai ogoh-ogoh yang membuat jadi festival tahunan yang semarak dan menjadi daya tarik pariwisata.

Buta Yadnya terdiri dari dua tahapan, yaitu ritual mecaru (pecaruan) dan ngrupuk (pengerupukan). Mecaru merupakan upacara persembahan aneka sesajian (caru) kepada buta kala. Upacara ini dilakukan dari tingkatan keluarga, banjar, kecamatan, kabupaten, kota, hingga tingkat provinsi.

Ngrupuk adalah ritual berkeliling pemukiman sambil membuat bunyi-bunyian disertai penebaran nasi tawur dan menyebarkan asap dupa atau obor secara beramai-ramai. Ritual ngrupuk yang biasanya dilakukan bersamaan dengan arak-arakan ogoh-ogoh bertujuan agar buta kala beserta segala unsur negatif lainnya menjauh dan tidak mengganggu kehidupan umat manusia.

Ogoh-ogoh merupakan boneka atau patung beraneka rupa yang menjadi simbolisasi unsur negatif, sifat buruk, dan kejahatan yang ada di sekeliling kehidupan manusia. Boneka tersebut dahulu terbuat dari kerangka bambu yang dilapisi kertas. Seiring waktu, kebanyakan ogoh-ogoh saat ini dibuat dengan bahan dasar styrofoam karena menghasilkan bentuk tiga dimensi yang lebih halus.

Pembuatan ogoh-ogoh ini dapat berlangsung sejak berminggu-minggu sebelum Nyepi. Waktu pembuatan sebuah ogoh-ogoh dapat bervariasi bergantung pada ukuran, jenis bahan, jumlah SDM yang mengerjakan, dan kerumitan desain dari ogoh-ogoh tersebut. Umumnya, setiap tingkatan masyarakat dari level banjar akan membuat ogoh-ogoh milik wilayah mereka.

Kalangan remaja di suatu daerah umumnya menginginkan agar ogoh-ogoh milik daerahnya lebih unggul dari ogoh-ogoh milik daerah lain. Karena itulah, selain sebagai bagian dari ritual tradisi, proses pembuatan ogoh-ogoh juga menjadi wadah pencurahan kreativitas pemuda setempat. Pembuatan ogoh-ogoh dan tehnis pelaksanaan arak-arakannya biasanya dikelola dalam sebuah kepanitiaan yang dibentuk oleh Sekaa Teruna Teruni (semacam karang taruna) di masing-masing banjar.

Pelaksanaan ritual ngrupuk dan pawai ogoh-ogoh berlangsung serempak sehari menjelang Hari Raya Nyepi atau tilem sasih kesanga di setiap banjar di seluruh Bali. Persiapan pawai biasanya telah dimulai sejak sore dan pawai akan berlangsung hingga menjelang tengah malam.

Agar dapat berjalan dengan tertib, Pemerintah Kabupaten Badung kemudian mengeluarkan sejumlah kebijakan, antara lain berupa penertiban rute pawai, pemusatan titik keramaian, dan melombakan kreativitas desain ogoh-ogoh yang dibuat oleh masyarakat.

Sejumlah upaya ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pergesekan antar rombongan arak-arakan dari berbagai wilayah dan sekaligus mengemasi ajang tahunan ini menjadi suatu tontonan yang menarik bagi masyarakat pendatang, khususnya para wisatawan.

Untuk wilayah Badung  keramaian pawai ogoh-ogoh dapat ditemukan di beberapa tempat. Salah satunya adalah di sekitar McDonald Jimbaran dalam pantauan Jurnalist Indonesia Satu Biro Bali Rabu (6/3)  dan di Desa Adat Pecatu Kuta Badung.

Juara I Lomba ogoh-ogoh serangkaian perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1941 di Badung di sabet Seka Teruni (ST) Bhakti Karya, Banjar Badung, Desa Munggu , Mengwi. Ogoh-ogoh dengan tema "Kuwera Punia Karma"ini mendapat nilai 3.462. Sebagai Juara I, Ogoh-ogoh dengan tinggi total 4,5 meter ini mendapat hadiah uang pembinaan Rp.25 Juta.

Juara II diraih ST Bakti Asih, Banjar Kauh, Desa Pecatu, Kuta Selatan. Juara III ST Sila Dharma, Banjar Tengah,Desa Adat Tegal, Darmasaba, Abiansemal. Juara harapan I diraih ST.Kumara Canthi, Banjar Petang Kelod, Petang Kecamatan Petang. Harapan II ST Dipa Bhuana Canthi, Banjar Basangkasa, Kerobokan,Kuta Utara, Sedangkan ST Eka Bhuana Tunggal,Banjar Seminyak Kaja, Kelurahan Seminyak, Kuta meraih Juara Harapan III.

"Penilaian oleh tim juri sudah dilakukan sejak senin (18/2).Awalnya di cariv18 nominator perkecamatan, setelah itu dicari lagi tiga nominator masing-masing kecamatan.Penilaian akhir pada tanggal (1/3)",kata IB Anom Bhasma Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Badung ketika dikonfirmasi Jornalist Indonesia Bali.

"Hasil akhirnya, ST Bhakti Karya keluar sebagai Juara I dengan perolehan nilai tertinggi yakni 3.462, Juara II ST Bhakti Asih dengan nilai 3.459, dan Juara III ST Sila Dharma dengan nilai 3.419", ungkapnya.

"Disbud Badung telah mengumumkan secara resmi dan menyerahkan hadiah sebagai dana motivasi kreatifitas ST di Kabupaten Badung. Hadiah diberikan secara langsung kepada para pemenang dengan rincian Juara I mendapatkan uang pembinaan Rp.25 juta, Juara II Rp.20 juta, Juara III Rp.15 Juta. Untuk Juara Harapan I,II dan III masing-masing diberikan Rp.10 juta", pungkasnya.(GUN).

 

  • Whatsapp

Berita Terpopuler

* Belum ada berita terpopuler.

Index Berita